Laman

Selasa, 03 Mei 2011

DEFINISI AQIDAH

‘Aqidah  menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu  yg berarti ikatan, at-tautsiiqu  yg berarti kepercayaan / keyakinan yg kuat, al-ihkaamu  yg artinya mengokohkan (menetapkan), & ar-rabthu biquw-wah  yg berarti mengikat dg kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yg teguh & pasti, yg tdk ada keraguan sedikit pun bagi orang yg meyakininya.
Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yg teguh & bersifat pasti kepada Allah l dg segala pelaksanaan ke-wajiban, bertauhid & taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik & buruk & mengimani seluruh apa-apa yg telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yg ghaib, beriman kepada apa yg menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yg telah ditetapkan menurut Al-Qur'an & As-Sunnah yg shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

*********************************************************************
*********************************************************************

Hukum Berdoa Kepada Ashabul Qubur

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa hukum berdo’a kepada ashabul qubur (orang yg sudah mati di dalam kubur)?



Jawaban.
Do’a itu berbagi menjadi dua bagian:
Pertama
Do’a ibadah, contohnya shalat, shaum & ibadah-ibadah yg lain. Jika seseorang shalat / shaum maka dia telah berdo’a kepada Rabbnya dg lisanul hal agar Dia mengampuninya, menyelamatkannya dari adzabNya & memberinya balasan. Yang menunjukkan hal itu adalah firmanNya.
“Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yg menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Al-Mukmin: 60)
Jadi dia telah menjadikan do’a sebagai ibadah, maka barangsiapa memberikan sesuatu dari urusan ibadah kepada selain Allah, sungguh dia telah kafir dg kekafiran yg mengeluarkan dari millah. Kalau seandainya seseorang ruku’ / sujud kepada sesutu yg dia agungkan seperti pengangungannya kepada selain Allah dalam ruku & sujud ini, niscaya dia menjadi orang musyrik yg keluar dari Islam. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membungkukkan badan ketika bertemu sebagai tindakan preventif & syirik. Beliau ditanya tentang seseorang yg bertemu dg saudaranya, apakah dia boleh membungkukkan badan kepadanya, beliau menjawab: “Tidak”. Yang dikerjakan sebagian orang yg bodoh jika mengucapkan salam kepadamu dg membungkukkan badannya kepadamu adalah salah, kamu wajib menerangkan kepadanya & melarangnya hal itu.
Kedua.
Doa masalah (permintaan), & ini tdk semuanya syirik, namun ada perinciannya.
. Jika yg diseru itu hidup lagi mampu atas hal itu (memenuhi permintaan) maka itu bukan syirik, seperti ucapanmu: “Berikanlah aku minum”, kamu ucapkan kepada oran yg mampu akan hal itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Artinya: Barangsiapa menyeru kalian maka penuhilah dia”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim & orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) & ucapkanlah kepada mereka perkataan yg baik” (An-Nisa: 8)
Jika orang fakir mengulurkan tangannya & berkata: “Berilah saya”, maka hal itu boleh
. Jika yg diseur itu mati maka seruan (do’a) kepadanya adalah syirik yg mengeluarkan dari millah.
Sayang sekali, di sebagian negeri Islam ada orang yg berkeyakinan bahwa si Fulan yg dikubur yg tinggal bangkainya / telah dimakan tanah, bisa memberi manfaat / mudharat, / memberikan keturunan bagi orang yg tdk mempunyai anak. Hal seperti ini –wal’iyadz billah- adalah syirik akbar yg mengeluarkan dari millah. Mengakui hal seperti ini lebih besar (dosanya) dari pd mengakui minum khamer, zina & liwath, karena ini pengakuan terhadap kekufuran, bukan sekedar pengakuan terhadap kefasikan saja. Kami mohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi kaum muslimin.
(Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, Edisi Indonesia Majmu’ Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah)

*********************************************************************

DASAR ISLAM ADALAH IMAN

IMANatau mempercayai  merupakan rukun iman yang pertama,   inilah dasar dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Umat Islam yang memiliki keteguhan iman dan selalu berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam, dan diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan akan merasakan betapa manisnya iman itu.
Jiwa dan pikiran akan tenang untuk menuju tangga kesempurnaan pengabdian, yang akan melahirkan keberanian yang luar biasa di dalam beramar makruf  bernahi mungkar. Selalu bersikap optimis (tafa’ul) di dalam mengayuh biduk kehidupan ini. Tidak pernah merasa cemas, khawatir dan sedih selama masih berada dalam jalur kebenaran yang selalu berpedoman pada Al Quran dan As Sunah.“ Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu dua pusaka, jika kamu berpegang teguh pada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Hadis Rasulullah Saw”. (HR. Al Hakim).
Merujuk pada hadis Rasul Saw di atas akan lahirlah suatu kewajiban untuk menyakini sepenuyh hati bahwa yang menciptakan/menjadikan baik dan buruk, anugerah dan bencana, yang mengatur riski, langkah,  pertemuan dan maut, sampai pada penciptaan jagat raya ini plus pengaturanya tiada lain adalah sang khalik,  Allah Swt. Dialah zat yang maha pencipta dan maha kuasa atas segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Keyakinan itulah yang di sebut dalam Islam sebagai iman yang mendasari secara keseluruhan akan ajaran Islam.
Menurut pengertian bahasa iman adalah percaya atau membenarkan, sedangkan menurut ilmu tauhid iman berarti membenarkan atau meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan yang terpenting adalah mengamalkanya / merealisasikannya dalam wujud amal ibadah selama menjalani kehidupan di atas dunia ini.
Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa hal seperti yang di sebutkan di ataslah yang merupakan pokok dasar dari seluruh rangkaian akidah Islam dengan menyempurnakan keimanan pada-Nya. Seperti yang  di firmankan Allah dalam Qs Al Anfal 2-4. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila di bacakan pada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah keyakinan mereka karenanya dan kepada tuhanlah mereka bertawakal.Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian riski yang kami berikan pada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi tuhan-Nya dan ampunan serta riski (ni’mat) yang mulia”.
Dari uraian ayat di atas digambarkan bahwa Islam itu memandang iman dan takwa sebagai martabat yang paling mulia di sisi Allah Swt. Jelas sangat percuma sekali kalau hanya sekedar percaya atau sekedar mempercayai Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya maupun para Rasul-Rasul-Nya jika mengesampingkan/tidak mengimani ke esaan Allah Swt sebagai khalik yang harus di sembah menurut aturan Syariat dan Hadis Rasul Saw.
Keyakinan terhadap sang pencipta itu sebenarnya tidak saja di ajarkan oleh agama Islam khususnya, tetapi ilmu pengetahuanpun telah mengakui akan keagungan dan keberadaa-Nya itu. Seperti yang pernah di kemukakan oleh seorang filosof Yunani Xenophanes (580-470 SM), dia mengatakan tuhan yang maha esa itu di jadikan tidak bergerak, berubah-rubah dan Dia adalah penguasa tunggal alam semesta ini.
Hal ini dapat kita lihat dalan Qs Al An’am-73 “ Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu dia mengatakan”Jadilah lalu terjadilah” dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui”.
Inti ajaran Islam pada dasarnya adalah mengajarkan pada setiap pemeluknya agar selalu hidup dalam kebahagiaan baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat yang kekal dan abadi, yang salah satu cara untuk mendapatkanya adalah dengan memelihara dan memupuk rasa keimanan sebagai dasar/pondasi dari Islam.
Al Quran memberikan petunjuk yang lengkap untuk meraih  kebahagiaan yang di janjikan-Nya itu, tentu dengan mempelajarinya secara serius dan harus benar-benar di pelajari (kaffah), di pahami sampai mengerti, agar orang-orang yang berfikir mendapat pelajaran di sisi Al Quran tersebut.
Sebagai mana yang telah di firmankan Allah dalam Qs Shaad- 29 “ Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh dengan keberkahan, supaya kamu memperhatikan ayat-ayat-Nya,  dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran”. Begitu juga ajaran Islam ini bagaimanapun situasi dan kondisi zaman, dalam keadaan susah maupun senang harus di amalkan dengan tepat dan benar penuh kesabaran di setiap lini dan sisi kehidupan ini ( Qs Al Ahzab-36).
Sikap orang mukmin/mukminat yang dilandasi dengan keimanan yang mantap seharusnya selalu berkata/berprinsip, kami taat pada hukum-hukum Allah yang tercantum dalam Al Quran, dan akan selalu mentaati tuntutan Rasulullah Saw berat maupun ringan. Sebab tidak ada hukum Allah maupun Hadis Saw yang merugikan dan yang dirugikan.
Kita harus menanamkan keyakinan yang teguh bahwa ayat-ayat Allah benar-benar membawa keselamatan dan kebahagiaan yang besar untuk hidup di dunia maupun di akhirat. Berfirman Allah “ Sesungguhnya perkataan (jawaban) orang-orang yang beriman dikala mereka di panggil oleh Allah dan Rasul-Nya agar menghukum (mengadili)  diantara mereka, mereka hanyalah berkata “kami mendengar dan kami mentaati dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Allah juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang telah di pilihnya dan diridhoinya sebagaimana yang telah tertulis dalam Hadis Qudsi “ Ini (agama Islam) adalah agama yang telah-Ku ridhoi untuk diriku sendiri dan tidak akan dapat dimanifestasikan kecuali dalam perbuatan murah hati dan akhlak yang baik. Karena itu jadikanlah kemulian dengan sifat itu selama kalian menganutnya.” ( Hadis Qudsi Riwayat Sumawaih dan Ibnu Adi ).
Setiap orang Islam yang mengaku beriman dan bertaqwa tidak akan melepaskan dirinya dari Allah, ia akan selalu bertawakal setelah melakukan usaha yang konotasinya dengan berbagai macam nilai kebaikan. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan diri hanya pada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus”.( Qs An Nisa-125).
Ajaran Islam tidak akan berarti apa-apa jikalau kurang mendapatkan tempat yang khusus dalam setiap pribadi umatnya, dengan artian ajaran Islam itu harus di hayati dan dipahami oleh para pemeluknya dalam segala sisi kehidupan dengan berkarakterkan tauhid serta menanamkan satu harapan yaitu keridhoan Allah Swt. Pengamalan ajaran seperti inilah yang akan bisa mengantarkan manusia itu menjadi orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa, yaitu suatu sebutan yang paling mulia di sisi Allah Swt.
Dengan kata lain, iman dan taqwa sebagai dasar Islam dan sebagai kunci kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Dalam sikap ini terkandung gaya hidup yang Islami, patuh, ikhlas.tawadhuk, ulet dalam berusaha, sabar dsb. Dan akan selalu mengutamakan hak Allah dari pada segala-galanya. Allah Hu a’llam. Berbagai Sumber.

***********************************************************************

SEBERKAS CAHAYA




"Biarlah cahaya kemuliaan Allah menembus jauh menyinari relung-relung hati yang mengalami kesepian dan kegelapan, karena hanya cahaya kasih Allah inilah yang bisa memberikan kelegaan dan kelepasan akan kegelapan dan kesepian hati akibat penolakan dunia ini".
Penolakan hidup memang tidak mengenakkan dan cenderung menyakitkan.
Penolakan mengibaratkan kalau diri ini tidak berarti dan tidak punya peran sehinga harus disingkirkan dan tidak ada penghargaan sama sekali yang dimiliki. Yah penolakan sering terjadi dalam kehidupan, bahkan secara tidak sadar kadang kita menolak keberadaan orang lain dengan tidak menhiraukan mereka yang ada di sekitar kita.
Hari ini, hati ini sedih sekali ketika mendengar cerita seorang bapak penjual gorengan keliling.
Bapak ini bercerita tentang kejadian yang dialaminya ketika mengunjungi anaknya yang pertama yang sudah memiliki rumah sendiri dan hidup lebih mapan dengan ketercukupan materi dibanding dirinya. Sewaktu menginjakkan kaki di depan rumah dan mau masuk, bapak tidak diperbolehkan masuk karena membawa adiknya yang mengalami kecacatan ( cacat mental ) dan anaknya yang sulung itu mengeluarkan kalimat yang menyakitkan hatinya.
Anak itu berbicara," Ngapain anak gila itu dibawa kesini, buang aja dia dan bapak tidak boleh masuk rumah kalau membawa anak gila itu kemari !".
Spontan bapak itu menangis dan mengatakan kalau walaupun cacat ini adalah adiknya namun jawaban bapak ini malah membuat anaknya itu marah dan menutup pintu, maka dengan berlinang air mata ia pamitan pulang dan mengajak anaknya yang cacat,
Namun ketika mau diajak, anaknya yang cacat sudah tidak ada dan setelah dicari ternyata anaknya telah duduk dipingir jalan sambil menangis.
Hati bapak itu semakin sedih karena ia tidak menyangka kalau anaknya yang mengalami kecacatan juga merasakan dan mengetahui penolakan yang dilakukan kakaknya sedangkan biasanya anak itu hanya diam dan tidak bereaksi ketika ada kejadian apapun bahkan ketika dimarahi dan di cela temannya karena cacat anak ini malah tertawa.
Tapi dalam kejadian penolakan oleh kakaknya anak itu kok bisa menangis dan pergi dahulu sebelum diajak oleh bapaknya.
Penolakan kakaknya ternyata telah melukai hati terdalam dari anak yang cacat itu dan secara tidak langsung " menyakiti" hati Allah yang menjaga dan memelihara anak itu.
Anak itu biasanya diam atau malah tertawa kalau digoda dan dihina, tapi dalam kasus penolakan ini kok anak itu menangis dan pergi dahulu meninggalkan rumah kakaknya, bukankan ini sebuah "keajaiban" yang tidak tersangka dan bahkan mungkin tidak akan terulang lagi terjadi pada anak itu.
Kepekaan hati akan tetap terjadi kalau penolakan sudah pada puncaknya.
Hati  dan perasaan anak tetap tajam dan kuat walaupun ia mengalami kecacatan, karena dalam hati itu Ada kekuatan belas kasih Allah yang maha dasyat yang tidak ditangkap dan dirasakan oleh siapapun mungkin termasuk oleh anak yang mengalami kecacatan ini.
Cahaya kebesaran kasih Allah inilah yang membuat orang bisa dalam keadaan yang mengagumkan dan bisa bertindak diluar jangkauan nalar pikiran sehat.
Seberkas cahaya akan selalu bisa masuk dalam kegelapan kalau ada celah dan celah itu akan muncul ketika kegelapan dan kesepian hati telah mencapai puncaknya, masalahnya tanggapkah orang dengan datangnya cahanya itu?
Puncak dari kekelaman hati adalah ketika orang telah mengalami penolakan dunia sehingga hanye ada satu jalan yang bisa dituju dan diharapkan yaitu Allah.
Maka membiarkan diri untuk bisa selalu akrab dan berusaha bergaul mesra dengan kegelapan akan membuat orang sanggup mengerti arti kegelapan itu dan akhirnya merasakan terang cahaya Allah yang hadir melalui kehidupan sekitar.
Biarkanlah hidup tidak meminta dihilangkanya kesulitan, namun perhatian sepenuh hati untuk mengakrabinya akan menjadikan kesulitan itu menjadi kekautan yang menhantar orang pada jalan yang akan ditempuh selanjutnya.
Seperti anak yang mengalami penolakan itu,
ia tidak mengharapkan kakaknya membukakan pintu dan menerima dirinya namun ia malah dengan "bimbingan Allah" meninggalkanya dan duduk menangis sambil menikmati penolakan itu dan ia memperoleh kekuatan untuk melangkah menuju jalan yang bisa menghantarkannya ke rumah kontakan yang bersedia menerimanya.
Penerimaan akan kesulitan dan penolakan menjadikan anak ini kelihatan lebih kuat dibanding dia hanya menangis dan merengek agar diperbolehkan masuk kedalam rumah kakaknya.
Anak ini telah tampil sebagai pribadi yang berharga walaupun anak ini sendiri mungkin tidak tahu dengan apa yang terjadi dan dialami karena keterbatasan pemikiran dan pemahaman hidupnya karena kecacatan yang dideritanya.
Namun Allah yang kuat telah memberikan jalan dan bimbingan untuk dapat menemukan penghargan akan hidupnya.
Inilah misteri kebesaran dan keadilah Allah dalam hidup ini.
Siapa yang mengalami penolakan dan kekelaman hati maka Allah sendiri yang akan bertindak sebagai penolongnya kalau ada keterbukaan.
Kejadian yang dialami bapak dan anaknya yang cacat ini sungguh membesarkan hati.
Keyakinan akan perlindungan dan keadilah Allah dalam hidup sungguh terjadi.
Ia yang besar tidak akan membiarkan diri ini dihinakan dan ditelantarkan walaupun dunia tidak berkenan akan keberadaan diri ini.
Dunia boleh menyia-nyiakan hidup dengan kekurangan dan penderitaan namun Allah yang akan menjaga kehidupan dan harga diri.
Harga diri bukan dibentuk dari apa yang diperoleh dari dunia namun dari keakraban dan kebersamaan dengan Allah.
Maka kemauan untuk belajar menghidupi kekelaman, kesulitan dan penolakan diri dengan berusaha begaul akrab dengan Allah akan menghadirkan cahaya kerahimanNya masuk memenuhi kehidupan yang penuh dengan liku liku ketidak berdayaan itu.
Jadi mempercayakan hidup sepenuhnya kepada penyelenggaraan Allah akan membuat diri selalu aman dalam perlindunganNya.
Walaupun kekelaman ada karena sulitnya ekonomi dan derasnya penolakan dunia terus menderu akan tetapi Allah akan selalu memberikan jalan yang menghantar kepada keselamatan.
semoga belas kasih Allah sunguh menguatkan hidup dan perjuangan kita di dunia yang penuh dengan penolakan dan carut-marutnya permasalahan ini dengan mengirimkan seberkas cahaya dalam kegelapan kita.
Tuhan beserta dengan saya dan Anda.
Yakinlah ini, dan jangan takut karena ketakutan semakin menutup pintu kehadiran cahaya kerahiman Allah.

**************************************************************