
Tidak ada halangan buat kita untuk mengenal Rosululloh lebih dekat walaupun kita hidup bukan pada masanya. Secara tekstual banyak sekali kita dapati riwayat Beliau, dari hadist ataupun riwayat-riwayat yang ditulis sangat banyak. Ketika kita mengetahui dari tulisan tersebut akan diperoleh gambaran bagaimana ahlak beliau. Namun tidak sedikit yang akhirnya menjadi perdebatan jika kita tidak bisa merentetkan suatu peristiwa yang melatar belakangi semua itu, apa-apa yang dilalui Rosulolloh dan apa yang diembannya, berikut gerak perkembangan risalah yang dibawakannya agar menjadi gambaran jelas menjadi suatu disipilin ilmu dan diterapkan dalam kehidupan kita.
Kedekatan atau menyaksikan secara langsung bukanlah jaminan seseorang untuk mengetahui secara pasti. Sebagaimana seorang istri belum tentu mengenal suaminya dengan baik jika si suami kerjanya didepan komputer dan tak pasti apa yang diperjuangkannya, si istri hanya tahu cara-cara memperoleh uang sesuai dengan gambaran pemikirannya untuk menghidupi keluarga. Dan ada suatu riwayat dimana setan ketika memasuki sebuah mesjid ia lebih takut terhadap orang tidur daripada orang yang sedang shalat. Begitu juga ketika Musa as menyaksikan Khidir as melubangi perahu nelayan.
Adakah kita melihat hal ini menjadi suatu kontradiksi dalam Islam yang kita ketahui? Semestinya tidak, adalah satu kesatuan dimana kita mengimani yang gaib dan mengetahui yang nyata. Dimana Islam memiliki jangkauan ilmu yang sangat luas, tanpa kita melihat dan menjadikannya gambaran yang jelas, menjadi satu kesatuan global; tentu kita akan sulit untuk menerima semua itu; yang ini diterima yang itu ditolak.
Perlu sama-sama kita ketahui bahwa dialam realita yang dapat kita inderai ini ada realitas yang lebih besar yang akan terbuka setelah kita benar-benar bisa mengaplikasikan Islam dengan benar. Untuk membedakannya adalah arah penyampaian dari realita yang dapat dipahami oleh orang banyak kepada realitas yang lebih besar tersebut atau sebaliknya.
Para sufisme kebanyakan sebaliknya dimana pengetahuan yang disampaikannya secara tekstual sulit dimengerti, karena mewakili dimensi yang belum pernah kita rasakan. Sedangkan Rosululloh selalu menyampaikan dengan mengukur dari kalangan bawah namun meninggalkan jejak-jejak dengan analogi yang jelas kearah realitas keimanan (realitas yang lebih besar) tersebut.
Walaupun kenyataan sudah banyak berubah, namun dari nilai-nilai yang Rosululloh emban adalah Risalah yang Alloh persiapkan untuk umat akhir zaman. Dimana zaman serba disandarkan pada realitas, jika kita telusuri dengan baik kisah-kisah Nabi dalam Al-Qur'an dan mengambil perbandingan ada perbedaan yang kontras sekali. Dimana dari zaman ke zaman ada peperangan yang sangat dahsyat, sebagaimana janji iblis untuk menyesatkan bani Adam.
"[7.176] ... Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (baca kaitan ayat-ayat ini min. 3 ayat disekitarnya.)
Bagi Alloh yang maha kuasa atas segala sesuatu tipu daya Iblis adalah kecil, namun jika kita melihat realita yang ada sekarang, bukanlah hal kecil; kesesatan nyata, sebagaimana dikatakan setan adalah musuh yang nyata. Seberapa nyata?
"[7.27] ....Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
Mau dipimpin setan?
[7.3] Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
Bagaimana mencitai Rosululloh dengan mengetahui Ilmunya?
Rosululloh adalah penyampai (Rosul: utusan) yang telah menyempurnakan risalah yang dibawakannya. Lalu diserahkan kepada kita sebagai umatnya mau atau tidak menjalankannya, jika tidak berarti ia membiarkan diri untuk dipimpin oleh setan. Dan sebaliknya berarti ia akan dipimpin oleh Alloh.
Rosululloh adalah penunjuk jalan dengan Islam yang dibawakannya dan menenjukan cara-cara untuk menempuh jalan tersebut. Bila tidak dilekatkan pada "hukum" disinilah makna "sunah". Sedangkan petanya adalah Al-Qur'an penjelasan atau catatan perjalanannya adalah al-hadist.
Jika kita berpegang teguh pada kedua ini berarti mengikuti jalan yang ditunjukinya berarti ia akan dipimpin oleh Alloh. Dimana ada 3 sumber kebenaran :
"[6.89] Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama) dan kenabian...."
Rosululloh SAW adalah nabinya, nabi terakhir. Dengan demikian menjalankan sunnahnya akan memperoleh hikmah, sedangkan kitabnya adalah Al-Qur'an.
Coba kita perhatikan hadist dibawah ini:
Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)
Pada kenyataanya adalah sebaliknya, dimana saya dapati dari berbagai forum pembahasan tidak lebih seputar "apa hukumnya ini dan itu?" bahkan menjadi perdebatan, sedikit sekali yang mengajarkan hikmah. Saya yakin bila jawaban sudah diperoleh, tidak cukup untuk menjawab keraguan si penanya. Atau merangkai keduanya menjadi pengertian yang mudah diterima, lalu dikembalikan kepada si pelaksana. Dimana dalam Islam tidak ada dosa yang dipikul oleh orang lain; masing-masing menanggung dosa yang diperbuatnya.
Dalam kaitan ibadah yang Rosululloh sampaikan dalam hadist diatas jika dibandingkan dengan perngertian ibadah, sebagaimana manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepadaNYA adalah jelas bahwa Rosululloh menyampaikan sesuai dengan pemahaman si penerima. Pada suatu peristiwa Rosululloh menegur seseorang dimana orang tersebut setiap kali dijumpai sedang Shalat, orang tersebut beralasan mengabdikan diri untuk beribadah namun anak istrinya justru dihidupi oleh saudaranya. Lalu diberitahu Rosululloh bahwa saudaranya yang akan masuk sorga. Berarti kesimpulannya ada kesalahan dalam maknai peribadatan, dan kenyataannya banyak terjadi sampai sekarang.
"[18.110] ... Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".
Adapun pengetahuan yang mengarah kepada hakikat (substansi) ialah analogi (perumpamaan) yang sering kali kita dapati dalam hadist. Bahwa Rosululloh menyimbolkan suatu permasalahan agar mudah diterima dan tetap pada garis kebenaran (kenyataan) baik bisa diterima secara nalar ataupun tidak, kesemuanya butuh penelusuran yang jauh, walaupun ada kontradiksi secara tekstual akan tetapi justru saling menguatkan bila kita dapat melihatnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Begitu juga dalam Al-Qur'an banyak perumpamaan-perumpamaan.
Adapun pertentangan yang ada adalah tidak memahami adanya tingkatan, sebagaimana Jibril menurunkan Al-Qur'an kepada Rosululloh berangsur-angsur, begitu juga pihak penerima disesuaikan dengan pemahaman si penerima. Tentu banyak sekali hadist selama 23 tahun Rosululloh menjalankan Risalah. Bila kita melihat bahwa keingkaran pada hakikatnya sama dari masa kemasa walaupun bentuknya berbeda, tentulah kita bisa merasakan ini semua.
Jika kita betul-betul mencintai Rosululloh tentulah kita dapat menjawab tangangan yang ada sekarang. Dan sulit bagi seseorang jika belum mampu menjawab keraguan dirinya akan kuasa Alloh. Hanya Alloh yang kuasa untuk membuka selubung akan makna-makna tersebut, mari kita bukakan ingatan sebanyak-banyaknya kepada Alloh.