Laman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencitai Rosululloh dengan mengenal Ilmunya

Tidak ada halangan buat kita untuk mengenal Rosululloh lebih dekat walaupun kita hidup bukan pada masanya. Secara tekstual banyak sekali kita dapati riwayat Beliau, dari hadist ataupun riwayat-riwayat yang ditulis sangat banyak. Ketika kita mengetahui dari tulisan tersebut akan diperoleh gambaran bagaimana ahlak beliau. Namun tidak sedikit yang akhirnya menjadi perdebatan jika kita tidak bisa merentetkan suatu peristiwa yang melatar belakangi semua itu, apa-apa yang dilalui Rosulolloh dan apa yang diembannya, berikut gerak perkembangan risalah yang dibawakannya agar menjadi gambaran jelas menjadi suatu disipilin ilmu dan diterapkan dalam kehidupan kita.

Kedekatan atau menyaksikan secara langsung bukanlah jaminan seseorang untuk mengetahui secara pasti. Sebagaimana seorang istri belum tentu mengenal suaminya dengan baik jika si suami kerjanya didepan komputer dan tak pasti apa yang diperjuangkannya, si istri hanya tahu cara-cara memperoleh uang sesuai dengan gambaran pemikirannya untuk menghidupi keluarga. Dan ada suatu riwayat dimana setan ketika memasuki sebuah mesjid ia lebih takut terhadap orang tidur daripada orang yang sedang shalat. Begitu juga ketika Musa as menyaksikan Khidir as melubangi perahu nelayan.
Adakah kita melihat hal ini menjadi suatu kontradiksi dalam Islam yang kita ketahui? Semestinya tidak, adalah satu kesatuan dimana kita mengimani yang gaib dan mengetahui yang nyata. Dimana Islam memiliki jangkauan ilmu yang sangat luas, tanpa kita melihat dan menjadikannya gambaran yang jelas, menjadi satu kesatuan global; tentu kita akan sulit untuk menerima semua itu; yang ini diterima yang itu ditolak.

Perlu sama-sama kita ketahui bahwa dialam realita yang dapat kita inderai ini ada realitas yang lebih besar yang akan terbuka setelah kita benar-benar bisa mengaplikasikan Islam dengan benar. Untuk membedakannya adalah arah penyampaian dari realita yang dapat dipahami oleh orang banyak kepada realitas yang lebih besar tersebut atau sebaliknya.
Para sufisme kebanyakan sebaliknya dimana pengetahuan yang disampaikannya secara tekstual sulit dimengerti, karena mewakili dimensi yang belum pernah kita rasakan. Sedangkan Rosululloh selalu menyampaikan dengan mengukur dari kalangan bawah namun meninggalkan jejak-jejak dengan analogi yang jelas kearah realitas keimanan (realitas yang lebih besar) tersebut.

Walaupun kenyataan sudah banyak berubah, namun dari nilai-nilai yang Rosululloh emban adalah Risalah yang Alloh persiapkan untuk umat akhir zaman. Dimana zaman serba disandarkan pada realitas, jika kita telusuri dengan baik kisah-kisah Nabi dalam Al-Qur'an dan mengambil perbandingan ada perbedaan yang kontras sekali. Dimana dari zaman ke zaman ada peperangan yang sangat dahsyat, sebagaimana janji iblis untuk menyesatkan bani Adam.
"[7.176] ... Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (baca kaitan ayat-ayat ini min. 3 ayat disekitarnya.)
Bagi Alloh yang maha kuasa atas segala sesuatu tipu daya Iblis adalah kecil, namun jika kita melihat realita yang ada sekarang, bukanlah hal kecil; kesesatan nyata, sebagaimana dikatakan setan adalah musuh yang nyata. Seberapa nyata?
"[7.27] ....Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
Mau dipimpin setan?
[7.3] Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

Bagaimana mencitai Rosululloh dengan mengetahui Ilmunya?
Rosululloh adalah penyampai (Rosul: utusan) yang telah menyempurnakan risalah yang dibawakannya. Lalu diserahkan kepada kita sebagai umatnya mau atau tidak menjalankannya, jika tidak berarti ia membiarkan diri untuk dipimpin oleh setan. Dan sebaliknya berarti ia akan dipimpin oleh Alloh.
Rosululloh adalah penunjuk jalan dengan Islam yang dibawakannya dan menenjukan cara-cara untuk menempuh jalan tersebut. Bila tidak dilekatkan pada "hukum" disinilah makna "sunah". Sedangkan petanya adalah Al-Qur'an penjelasan atau catatan perjalanannya adalah al-hadist.
Jika kita berpegang teguh pada kedua ini berarti mengikuti jalan yang ditunjukinya berarti ia akan dipimpin oleh Alloh. Dimana ada 3 sumber kebenaran :
"[6.89] Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama) dan kenabian...."
Rosululloh SAW adalah nabinya, nabi terakhir. Dengan demikian menjalankan sunnahnya akan memperoleh hikmah, sedangkan kitabnya adalah Al-Qur'an.

Coba kita perhatikan hadist dibawah ini:
Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

Pada kenyataanya adalah sebaliknya, dimana saya dapati dari berbagai forum pembahasan tidak lebih seputar "apa hukumnya ini dan itu?" bahkan menjadi perdebatan, sedikit sekali yang mengajarkan hikmah. Saya yakin bila jawaban sudah diperoleh, tidak cukup untuk menjawab keraguan si penanya. Atau merangkai keduanya menjadi pengertian yang mudah diterima, lalu dikembalikan kepada si pelaksana. Dimana dalam Islam tidak ada dosa yang dipikul oleh orang lain; masing-masing menanggung dosa yang diperbuatnya.

Dalam kaitan ibadah yang Rosululloh sampaikan dalam hadist diatas jika dibandingkan dengan perngertian ibadah, sebagaimana manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepadaNYA adalah jelas bahwa Rosululloh menyampaikan sesuai dengan pemahaman si penerima. Pada suatu peristiwa Rosululloh menegur seseorang dimana orang tersebut setiap kali dijumpai sedang Shalat, orang tersebut beralasan mengabdikan diri untuk beribadah namun anak istrinya justru dihidupi oleh saudaranya. Lalu diberitahu Rosululloh bahwa saudaranya yang akan masuk sorga. Berarti kesimpulannya ada kesalahan dalam maknai peribadatan, dan kenyataannya banyak terjadi sampai sekarang.

"[18.110] ... Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".

Adapun pengetahuan yang mengarah kepada hakikat (substansi) ialah analogi (perumpamaan) yang sering kali kita dapati dalam hadist. Bahwa Rosululloh menyimbolkan suatu permasalahan agar mudah diterima dan tetap pada garis kebenaran (kenyataan) baik bisa diterima secara nalar ataupun tidak, kesemuanya butuh penelusuran yang jauh, walaupun ada kontradiksi secara tekstual akan tetapi justru saling menguatkan bila kita dapat melihatnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Begitu juga dalam Al-Qur'an banyak perumpamaan-perumpamaan.
Adapun pertentangan yang ada adalah tidak memahami adanya tingkatan, sebagaimana Jibril menurunkan Al-Qur'an kepada Rosululloh berangsur-angsur, begitu juga pihak penerima disesuaikan dengan pemahaman si penerima. Tentu banyak sekali hadist selama 23 tahun Rosululloh menjalankan Risalah. Bila kita melihat bahwa keingkaran pada hakikatnya sama dari masa kemasa walaupun bentuknya berbeda, tentulah kita bisa merasakan ini semua.

Jika kita betul-betul mencintai Rosululloh tentulah kita dapat menjawab tangangan yang ada sekarang. Dan sulit bagi seseorang jika belum mampu menjawab keraguan dirinya akan kuasa Alloh. Hanya Alloh yang kuasa untuk membuka selubung akan makna-makna tersebut, mari kita bukakan ingatan sebanyak-banyaknya kepada Alloh.

Senin, 23 Mei 2011

ANEKA KEUNIKAN ANGKA TUJUH ( 7 ) DALAM HADIS NABI

 BEGITU banyak hal di dalam hadis yang berkaitan dengan angka 7. Sekiranya diuraikan satu per satu tentu akan menjadi satu buku tersendiri yang demikian tebalnya. Pada kesempatan ini cukuplah dengan menyebut sejumlah pernak-pernik permasalahan yang penyelesaiannya mengandung unsur angka 7. Dan tentulah itu semua sudah cukup memadai bagi siapa saja yang beriman, betapa Allah memang merahmatkan keistimewaan kepada hambanya yang selalu membersihkan jiwanya dari hal-hal kotor dan terlarang. Namun Allah juga tak segan-segan menurunkan laknat bagi hambanya yang berkhianat dari jalan lurus.


Melalui simbol angka 7, kita bertakwa untuk memperoleh perlindungan Allah dan sekaligus terhindar dari azab mengerikan. Kita renungkan berbagai sabda Nabi Muhammad berikut untuk diambil hikmahnya.

Dari riwayat Annas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudara muslim, maka Allah mencatat setiap langkah ditulis 70 kebaikan dan dihapus 70 kejahatan. Jika kebutuhan itu terpenuhi, maka ia lepas dari dosa-dosanya laksana baru lahir dari ibunya. Bila ia mati pada saat itu, maka dia masuk surga tanpa hisab.”

Hadis melalui Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Barangsiapa yang berjalan sesama saudara muslim untuk memenuhi kebutuhan saudaranya dengan itikad baik, maka Allah akan menjauhkan neraka dari dia sejauh 7 buah parit, di mana jarak setiap paritnya sejauh langit dan bumi.”

Pernah Rasulullah ditanya mengenai firman Allah tentang tempat-tempat tinggal yang indah di surga Aden seperti disebut dalam Al-Qur’an. Maka sabda Nabi Muhammad: “Ialah beberapa gedung dari mutiara Lu’lu. Setiap gedungnya ada 70 rumah dari Yaqut merah. Setiap rumahnya ada 70 buah kamar dari Zamrud hijau, di setiap kamarnya ada tempat tidur, dan setiap ada tempat tidur ada 70 hamparan dari berbagai warna. Dan setiap tempat tidur ada seorang istri bidadari yang bermata jeli. Setiap kamarnya ada 70 menu makanan, dan setiap menunya ada 70 macam makanan. Tiap-tiap kamar juga ada 70 pelayan putri yang masih remaja dan bagi setiap mukmin akan diberikan setiap pagi.”

Tentang langit yang paling utama paling dekat dengan Arsy Tuhan Yang Maha Pengasih, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa di sana ada Kursi-Nya, dan hanya 7 yang selalu berputar. Ke-7 bintang ada di langit tersebut yaitu : untuk hari Sabtu ada bintang Zuhal di langit tujuh, untuk hari Kamis ada bintang musytari di langit keenam, bintang Mirrih ada di langit kelima untuk hari Selasa, untuk hari Ahad ada bintang matahari di langit keempat, untuk hari Jum’at ada bintang Zuhra di langit ketiga, untuk hari Rabu ada bintang Athorid di langit kedua, dan pada hari Senin ada bintang rembulan pada langit pertama.

Hadis melalui Ikrimah dikemukakan sabda Rasulullah: “Matahari adalah bagian dari 70 cahaya Kursi, dan Arsy adalah bagian dari 70 cahaya Pelindung-Pelindung Allah. Sesungguhnya di antara malaikat pemikul Arsy dan Kursi-Nya (Muqorrobin) ada 70 hijab akan kegelapan dan 70 hijab dari cahaya. Setiap hijabnya sejauh 500 tahun perjalanan. Andaikan tidak ada hijab tersebut niscaya para malaikat pemikul Arsy akan terbakar.”

Dalam hal menghadapi musibah, Rasulullah mengajarkan barang siapa yang sabar menghadapi musibah, Allah memberikan 700 tingkat di surga, di mana setiap tingkatnya seluas antara langit dan bumi.

Ketika Nabi menerangkan hal-hal yang merusak, beliau membatasinya pada 7 hal. Seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim Nabi bersabda: “Jauhilah 7 hal yang merusak.”

Antara lain dijelaskan tentang kezaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa alasan, Nabi Muhammad menjadikan angka 7 sebagai simbol azab pada Hari Kiamat dengan bersabda: “Orang yang menzalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya, azab dari 7 bumi.”

Al Qadli Al Imam menceritakan bahwa barang siapa yang mencium wanita dengan syahwat, seolah-olah ia berzina dengan 70 perawan. Dan barang siapa yang berzina dengan perawan, maka ibaratnya sudah berzina dengan 70.000 janda.”

Hadis melalui Abi Sa’id Al Muqbari, dari Abu Hurairah melarang riba. Nabi Muhammad bersabda; “Riba itu memiliki 70 dosa, dan dosa yang paling ringan ibarat menzinai ibunya sendiri.”
Bila kita terkena najis berat misalnya dijilat anjing, maka harus disucikan dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan debu.

Dalam hal bersujud, Nabi menerangkan bahwa Allah memerintahkan kita bersujud dengan 7 organ tubuh. Rasulullah seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda: “Aku diperintah untuk bersujud dengan 7 tulang.”

Hadis Nabi tentang puasa di jalan Allah, dijelaskan pahala yang besar yang disiapkan Allah bagi pelakunya. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim Nabi bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah menjauhkannya berkat puasa sehari itu dari neraka sejauh 70 musim gugur.”

Tatkala seorang sahabat meminta Nabi menjelaskan rentang waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, masih menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda: “Khatamkan Al-Qur’an setiap 7 hari dan jangan lebih cepat dari itu.”

Bahkan pada waktu menjelang ajalnya, Nabi Muhammad selalu mengambil hikmah keistimewaan angka 7. Seperti diceritakan Aisyah: “Kami diperintah memandikan Rasulullah dengan 7 buah qirbah (tempat air) dari 7 sumur. Kami pun menunaikan dan Rasulullah nampak segar.”

Demikianlah, sangat terang benderang kita melihat angka 7 adalah angka yang paling istimewa dalam hadis-hadis Nabi. Hadis-hadis yang telah disebutkan itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad telah mengkhususkan penyebutan angka 7, bukan angka yang lain. Angka 7 adalah angka yang paling banyak disebut dalam hadis, dalam Al-Qur’an setelah angka 1. Maha Suci Allah dengan segala firmannya. Wallahu a’lam. 
**********************************************************************

Jumat, 20 Mei 2011

PERLUNYA JIWA DIDIDIK DENGAN BENCANA

Kata sabar berasal dari shabara. Yakni menahan dan menghalangi. Mengandung makna mengekang jiwa dari menolak ketetapan takdir, menahan lisan dari keluh-kesah dan murka, serta mengendalikan anggota tubuh dari tindakan memukuli pipi, merobek-robek baju, dan reaksi-reaksi lainnya yang bersifat jasmani, dengan maksud menggugat takdir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ٦٤:١١

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [at Taghabun/64:11]

Alqamah rahimahullah, seorang dari kalangan Tabi’in berkata: “Ia adalah seseorang yang dilanda musibah. Kemudian ia meyakini bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga tetap ridha dan berserah diri”.

Bencana atau musibah yang sedang melanda, hakikatnya memiliki peran besar dalam mendidik jiwa. Karena sudah semestinya jiwa itu juga harus dididik, meskipun dengan bencana. Sehingga ia akan memiliki kekuatan yang tegar, keteguhan sikap, terlatih, selalu respek dan waspada terhadap lingkungan sekitar.

Kesulitan-kesulitan yang dialami jiwa, sesungguhnya akan menghasilkan potensi luar biasa. Potensi itu dalam bentuk kekuatan besar yang tersembunyi. Kesulitan-kesulitan itu mampu membuka celah-celah hati, yang bahkan tidak diketahui oleh seorang mukmin sekalipun, kecuali melalui bencana atau musibah yang menderanya.

Saat itulah, seorang manusia harus segera menyadari, bahwa yang paling penting ialah iltija`. Yaitu mencari perlindungan diri kepada Allah semata, ketika seluruh tempat bergantung mengalami kegoncangan. Tidak ada tempat berlindung kecuali naungan-Nya. Tidak ada pertolongan, kecuali dari-Nya. Di saat-saat genting itulah, tabir kepalsuan kekuatan makhluk tersingkap. Tidak ada kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah. Tidak ada daya kecuali daya-Nya. Dan tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada-Nya. Razaqanallah husnal khatimah

Sabar Saat Tertimpa Bencana dan Meluruskan Aqidah 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Penjelasan Ayat

Firman Allah Ta’ala :

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”.

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, (pada ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menguji dan menempa para hamba-Nya. Terkadang (mengujinya) dengan kebahagiaan, dan suatu waktu dengan kesulitan, seperti rasa takut dan kelaparan.

Senada dengan keterangan sebelumnya, Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia pasti akan menguji para hambaNya dengan bencana-bencana. Agar menjadi jelas siapa (di antara) hamba itu yang sejati dan pendusta, yang sabar dan yang berkeluh-kesah. Ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seandainya kebahagiaan selalu menyertai kaum Mukminin, tidak ada bencana (yang menimpa mereka), niscaya terjadi percampuran, tidak ada pemisah (dengan orang-orang tidak baik). Kejadian ini merupakan kerusakan tersendiri. Sifat hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ini) menggariskan adanya pemisah antara orang-orang baik dengan orang-orang yang jelek. Inilah fungsi musibah”.

Makna dari “dengan sedikit ketakutan dan kelaparan,” yaitu takut kepada para musuh dan kelaparan yang ringan. Sebab bila diuji dengan rasa takut yang memuncak atau kelaparan yang sangat, niscaya mereka akan binasa. Karena, hakikat ujian adalah untuk menyeleksi, bukan membinasakan. Sedangkan musibah berupa “kekurangan harta,” mencakup berkurangnya harta akibat bencana, hanyut, hilang, atau dirampas oleh sekelompok orang zhalim, ataupun dirampok.

Adapun bencana yang menimpa “jiwa,” yaitu berupa kematian orang-orang yang dicintai. Misalnya, seperti anak-anak, kaum kerabat dan teman-teman. Atau terjangkitinya tubuh seseorang, atau orang yang ia cintai oleh terjangkiti berbagai penyakit.

Berkaitan dengan kekurangan pada “buah-buahan,” lantaran bergulirnya musim dingin, salju, terjadinya kebakaran, gangguan dari belalang dan hewan lainnya, sehingga kebun-kebun dan ladang pertanian tidak menghasilkan sebagaimana biasanya.



Semua ini dan bencana lain yang serupa, merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa, akan ditimpa hukuman-Nya. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“(Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar)”.

Maksudnya, berilah kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran tiada terukur. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan (karena tertimpa musibah).

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

Kata-kata إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (إِنَّا لِلَّهِ) ini mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah.

Sedangkan firmanNya (وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah.

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya)”.

Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.

Kata Imam al Qurthubi rahimahullah : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud “shalawat” dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata “rahmat” diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”.

Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan). Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“(dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk)”.

Disamping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin (yang menerima hidayah), berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dalam konteks ini, yaitu keberhasilan mereka bersabar karena Allah.

Ayat ini menunjukkan pula balasan bagi orang yang tidak mampu bersabar. Yaitu akan mendapat balasan dalam bentuk celaan, hukuman dari Allah, kesesatan dan kerugian.
**************************        Wassalam      *****************************

Senin, 16 Mei 2011

Seorang Muslim Adalah Saudara Muslim Lainnya

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ (صحيح البخاري
Sabda Rasulullah saw :
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, janganlah ia mendholimi saudaranya, dan jangan pula menyerahkannya pada musuh, dan selama ia memperhatikan kebutuhan saudaranya maka Allah swt memperhatikan kebutuhannya” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah, Maha Raja Alam Semesta, Maha Melimpahkan Anugerah kepada hamba hamba Nya dari zaman ke zaman, kebahagiaan dunia dan akhirat yang milik Allah, Rahmat dan Kesucian yang milik Allah, Surga yang kekal dan abadi yang milik Allah, Ditawarkan kepada hamba hamba Nya, disiapkan bagi mereka kemewahan yang kekal dan abadi, Ahluttaqwa, Orang orang yang mengikuti Sayyidina Muhammad Saw, orang orang yang akan bahagia dengan kebahagiaan yang kekal, para pengikut Muhammad Rasulullah saw.
Orang orang yang melewati ketenangan hidup dengan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat adalah orang orang yang mengikuti Nabiyyuna Muhammad saw, Semakin ia berbuat hal hal yang disukai Allah, semakin Allah akan berbuat hal hal yang ia sukai, Semakin ia melakukan hal hal yang disenangi Allah, Allah akan selalu membolak balikkan keadaan hidupnya pada hal hal yang ia senangi, Demikian hadirin hadirat timbal balik dan balasan dari yang Maha Indah membalas perbuatan hamba hamba Nya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Semakin kau perindah hubunganmu dengan Allah, semakin Allah Swt memperbaiki keadaan kita, semakin Allah benahi hari hari kita dan semakin Allah melimpahkan keberkahan kepada kita.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Semakin kita perduli kepada saudara kita, semakin Allah perduli kepada kita. Mana buktinya? sebagaimana hadits yang kita baca tadi “al muslim akhul muslim“ (seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya). Bagaimana perbuatan kita terhadap saudara kita? ketika ia susah kita juga ikut susah, jika saudara kita lapar kita turut juga walaupun kenyang tidak merasa enak makannya karena ada saudara kita, saudara kandung kita yakni akhul muslim,
Berkata Rasul saw “muslim adalah saudara muslim lainnya”. Apa maksud kalimat ini? orang yang menjiwai dan mengamalkan kalimat ini maka ia menjadi penyebab kedamaian dan kesejahteraan di permukaan bumi. Ketika jiwanya menyatu dengan muslim lainnya,, menghormati mereka maka ia tidak akan mau melakukan hal hal yang merugikan saudara muslimnya. Diperjelas oleh Rasul saw “la yadlhlimuhu” (jangan berbuat dholim kepada saudaranya), Kita juga tidak akan tega kalau berbuat dholim kepada saudara kita sendiri, saudara kandung, Demikian Sang Nabi saw mengajarkan kepada kita berbuat kepada seluruh muslimin. “wa la yuslimuhu” (jangan pula membiarkan saudara muslimnya dicengkeram oleh musuh musuh). Dan semakin ia perduli kepada hajatnya, Allah tetap memperhatikan hajat, hajat orang itu. Semakin ia perduli kepada saudara muslimnya yang sedang sedih, yang sedang bermasalah, yang sedang susah. Semakin ia perduli dengan itu maka Allah pun semakin memperhatikan kebutuhannya. Semakin ia berbuat hal hal yang disukai saudaranya, Allah akan makin berbuat hal hal yang ia sukai.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt menyampaikan kepada kita tuntunan terindah Nabiyyuna Muhammad saw. Kita memahami bahwa hal yang paling banyak membahayakan dan menimpa saudara kita itu yang tadi dijelaskan oleh Ustadz Khairullah, bukan kemiskinan saja. Orang di zaman sekarang yang dipermasahkan kemiskinan terus dan kemiskinan, bagaimana mengangkat taraf hidup manusia. Banyak musibah, kemiskinan muncul dan Allah melihatnya sebagai kesalahan muslimin sendiri.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Beda dengan zaman Para Sahabat Ra, mereka tidak menginginkan kekayaan. Kalau mereka inginkan maka Allah limpahkan seluas luasnya. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Bagi mereka yang membutuhkan harta dan keluasan, Allah Swt akan berikan selama ia mendekat kepada Allah Swt, memperindah hubungannya dengan Allah Swt dan Allah Swt akan memberikan hal hal yang membuat ia senang. Selama hal itu bukan dosa dan maksiat. Jadi jangan sampai kita berfikir, semakin aku taat semakin susah hidupku. Kalau aku bertaubat nanti aku disejajarkan dengan Para Sahabat maka hidupku miskin. Tidak demikian hadirin hadirat, karena Rasul saw juga mendoakan Sahabat agar kaya raya.
Dijelaskan di dalam Shahih Bukhari, Rasul saw mendoakan Sayyidina Anas bin Malik Ra “wahai Allah perbanyaklah hartanya dan keturunannya dan limpahi keberkahan bagi harta dan keturunannya”. Tapi kenapa sebagian besar Para Sahabat yang dijelaskan Guru kita tadi adalah orang yang miskin, karena mereka menginginkan hal itu. Karena di zaman mereka sudah ada Baitul Maal yang menampung daripada para fuqara. Mereka menginginkan dekat kepada Allah Swt dan memperbanyak ibadah dan memperbanyak puasa dan tidak boleh disibukkan dengan harta.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Jadi jangan sampai kita beranggapan kalau seandainya saya banyak ibadah nanti Allah Swt justru menyempitkan rezki saya. Justru tidak demikian, hal itu adalah bisikan syaitan. Allah Swt akan semakin luaskan keadaan hamba Nya terkecuali hamba Nya sendiri yang tidak menginginkannya. Ada hamba yang tidak ingin tinggal di kota maunya tinggal di desa tapi tetap ia terpaksa. Semakin seseorang memperindah hubungannya dengan Allah Swt maka Allah Swt akan berbuat apa apa yang ia sukai. Ada Para Sahabat Ra tidak menginginkan harta. Allah Swt tidak berikan pada mereka keluasan karena Allah Swt berbuat apa yang mereka sukai.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt mengabulkan doa doa, Sayyidina Umar bin Khattab Ra ingin mati syahid dan ingin wafatnya di Madinah Al Munawwarah maka Allah Swt wafatkan sebagai syahid di Madinah Al Munawwarah. Ada Sahabat Ra lain yang tidak berdoa demikian, wafatnya jauh dari Madinah Al Munawwarah walaupun hati mereka bersama Rasul saw dan Para Sahabat lainnya. Demikian hadirin hadirat semakin kita memperindah hubungan kita dengan Allah Swt, Allah Swt akan membuat apa apa yang kita inginkan diberi oleh Allah Swt. Allah Swt akan berbuat apa yang kita sukai di dunia dan di akhirat.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Al Muslim akhul muslim (seorang muslim adalah saudara muslimnya sendiri). Kita lihat Sang Pembicara Nabiyyuna Muhammad Saw, orang yang paling mencintai seluruh muslimin. Kecintaan yang melebihi seluruh cinta. Cinta ayah dan ibu kepada anaknya tidak berani membela pendosa di hadapan Allah Swt di yaumal qiyamah. Cinta Sayyidina Muhammad Saw kepada umatnya (Nabi saw) membela dan meminta pengampunan bagi para pendosa disaat ayah dan ibu mundur atau kalau perlu tidak mengakui orang itu adalah anaknya, ketika anaknya seorang pendosa.
Nabiyyuna Muhammad Saw orang yang paling mencintai kita, tapi cintanya (Nabi saw) tidak terlihat di dunia tetapi terlihat jelas di yaumal qiyamah. Sehingga kelak semua orang di padang mahsyar mengakui bahwa betul ternyata tidak ada yang lebih perduli dan cinta kepadaku melebihi Sayyidina Muhammad Saw walaupun di dalam kehidupan dunia tidak jumpa. Kita tidak jumpa dengan Sang Nabi saw tapi airmata rindu beliau (Nabi saw) telah sampai kepada kita.
Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, ketika Rasul saw mengeluarkan airmata “aku merindukan saudara saudaraku”, siapa mereka ya Rasulullah? Mereka yang hidup setelah aku wafat, mereka lebih senang duduk melihat aku (Nabi saw) daripada duduk di dalam pekerjaannya, di dalam keluarganya dan di dalam hartanya.
Kelompok kelompok seperti ini adalah kelompok kelompok yang dirindukan oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Karena kita disini tidak melihat Rasulullah Saw, kita sudah tinggalkan keluarga kita di rumah, meninggalkan pekerjaan dan duduk disini. Disini tidak ada Rasulullah. Bagaimana kalau ada Rasul saw? barangkali dari kemarin atau dari seminggu yang lalu sudah penuh masjid ini dari banyaknya orang yang ingin melihat wajah Nabiyyuna Muhammad Saw. Ini menunjukkan kecintaan akan Sang Nabi saw dan beliau (Nabi saw) merindukan kelompok kelompok, merindukan berjumpa dengan wajah wajah ini. Inilah cinta yang semulia mulia cinta, inilah yang paling hakiki dan tidak pernah terputus. Sebagaimana riwayat lainnya ketika seseorang mencintai lainnya, berbuat sedikit saja yang menyinggung hatinya, putus dan sirna cintanya berubah menjadi kebencian.
Cinta Sang Nabi Saw sampai ke yaumal qiyamah. Adakah yang melebihi cintanya Sang Nabi saw kepada kita? Allah Allah Allah Swt yang menciptakan Nabiyyuna Muhammad saw dengan maksud untuk mencintai kita. Kenapa Sang Nabi saw mencintai kita sedemikian hebatnya? karena Allah Swt yang menciptakan demikian. Memang Allah Swt menghendaki engkau dicintai dan disayangi oleh Nabimu (Muhammad saw). Allah Swt yang memilih nama kita untuk muncul di umat ini dalam kelompok Sayyidina Muhammad Saw. Fulan bin fulan akan masuk ke dalam kelompok umat Ku yaitu Muhammad saw dan akan dicintai oleh Nabinya (Muhammad saw), cinta beliau (Nabi saw) kepada umatnya (Nabi saw). Maka berikut ujian yang tiada henti kepada Yang Maha Indah yang membuat kita dicintai dan selalu dalam naungan doa doa Muhammad Rasulullah saw.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul saw didatangi oleh beberapa Sahabat mengadu perbuatan salah seorang sahabat lainnya. Seorang sahabat itu berkata “aku kalau melihat istriku ada bersama laki laki lain maka akan kubunuh”. Para sahabat mengadu “ya Rasulullah sahabat itu sampai begitu marahnya”. Katanya kalau ada laki laki lain bersama istrinya akan ia bunuh dengan pedangnya. Rasul saw tersenyum seraya berkata “kalian memangnya kenapa? heran dengan cemburunya Sa’ad..?, Ra”. Kalian kenapa heran dengan cemburu dan cintanya. Rasul saw berkata “aku ini lebih pencemburu daripada Sa’ad ra”. Apa maksudnya? Rasul saw lebih mencintai umatnya daripada cinta Sa’ad kepada istrinya. Cintanya (Nabi saw) kepada umatnya (Muhamad saw) melebihi cintanya suami kepada istri atau cinta istri kepada suami atau cinta ibu kepada anaknya.
Diteruskan lagi oleh Rasul saw “dan Allah Swt lebih pencemburu daripada aku”. Allah Swt lebih mencintai kita daripada siapa – siapa yang lainnya. Rasul saw berkata “oleh sebab itu karena Allah pencemburu (cemburu itu kan datangnya dari cinta) maka Allah haramkan perbuatan buruk dan perbuatan jahat yang terlihat dan yang tidak terlihat”. Kenapa? karena ingin selalu dekat dengan hamba Nya. Tidak mau jauh dari hamba Nya, tidak mau hamba Nya terjerumus dan menjauh karena dosa. Oleh sebab itu Allah Swt haramkan perbuatan jahat dan perbuatan keji yang terlihat dan yang tidak terlihat. Karena apa?karena cinta Nya (Allah Swt).
Orang yang mencintai itu kan selalu ingin dekat, tidak ingin jauh dari yang ia cintai. Dilihat kekasihnya menjauh sedikit, tidak senang. Oleh sebab itu Allah Swt bukan mengatakan makruh perbuatan keji dan perbuatan dosa, tetapi haram. Kenapa? supaya hamba Nya ini tidak jauh dari Allah Swt, ingin selalu dekat dengan hamba Nya. Tidak ada yang lebih ingin dekat kepada kita selain Allah Swt.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Tidak ada yang lebih Pemaaf dari Allah Swt, tidak ada yang mengundang hamba Nya sampai 50 waktu setiap harinya melebihi Allah Swt. Cinta yang tidak bisa ternilai dan terbayangkan ingin jumpa 50X hamba Nya disuruh menghadap 50X sehari. Diberi keringanan sampai 5X tapi sama dengan 50X. Subhanallah!! Dari tidak inginnya Allah Swt jauh dari kita walaupun hamba Nya terjebak. Kalau seandainya yang ada keadilan bukan cinta, saat menjauh dihukum, berbuat dosa dihukum. Sekali berbuat maksiat dengan lidahnya, Allah Swt jadikan lidahnya terbakar misalnya namun tidak, ditawarkan Maaf Nya. Sudah menjauh namun dipanggil lagi kepada pintu Pengampunan Nya. Demikian cinta.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Yang dilanggar kalau berbuat dosa itu siapa? Kan Allah Swt yang disakiti perasaan Nya. Seseorang ketika cinta pada orang lain perasaannya disakiti makin ingin dekat atau makin ingin jauh. Kalau cintanya hanya sekedar cinta di mulut saja, makin orang yang dicintainya berbuat hal yang tidak disukai, ditinggal tidak mau lagi berteman. Hilang cintanya, berbeda dengan Allah semakin hamba Nya berbuat dosa semakin ditawarkan Maaf Nya. Masih ingin dekat dengan Ku wahai pendosa? Ku terima. Jalallahu Yang Maha Indah Menerangi hamba hamba Nya, beruntung jiwa yang merindukan Allah Swt.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan Rasul saw bersabda “tiada pula yang lebih menyukai udzur melebihi Allah Swt”. Udzur itu alasan, minta maaf sudah berbuat salah. Siapa? orang orang yang lain tidak senang, kalau salah saja ya salah saja, sudah tidak usah banyak alasan. Allah Swt menyukai Maaf dan Memaafkan. Oleh sebab itu diutuslah Sang Pembawa kabar baik, kabar gembira dan Sang Pembawa Peringatan yaitu Nabiyyuna Muhammad Saw. Supaya apa? supaya hamba Nya kenal dengan ajaran yang mendekatkan kita kepada Allah Swt.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dalam kehadiran di majelis ini tentunya, saya teringat saudara saudara kita di Manokwari, Irian Jaya. Sebenarnya saya tidak ingin mengulas ucapan ini tapi banyak permintaan karena sebagian dari saudara kita ingin dengar dari website mengenai dakwah di Papua, Irian Jaya. Alhamdulillah keberangkatan saya sampai pada hari Rabu dini hari yang keberangkatannya dari Jakarta Selasa malam. 4 jam perjalanan dengan pesawat dan perbedaan waktu disana adalah 2 jam WIT (Waktu Indonesia Timur) dan disambut dengan sambutan yang sangat hangat di kota Manokwari oleh para pemuda kita lalu meneruskan perjalanan menuju Ransiki, 100 km dari kota Manokwari selama 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan yang selalu saya saksikan adalah hal yang sangat menyesakkan hati, selalu yang dilihat tidak pernah ada yang spanduk, iklan atau lainnya terkecuali baleho besar, spanduk besar ada di setiap tikungan jalan bertuliskan “Manokwari Kota Injil”. Padahal Manokwari belum diresmikan sebagai Kota Injil, cuma mereka saja mengada ada. Besar sekali balihonya, disetiap tikungan jalan ada pemandangan itu lagi.
Saya bertanya kepada yang bersama kita, penduduk setempat “ini muslimin disini berapa persen persentasenya?”. Ia mengatakan di propinsi Irian Barat ini sekitar 40% : 60% perbedaannya. 40% muslimin, Subhanallah!! Lalu dimana muslimin ini, saya belum melihat satu orang pun yang pakai peci maupun wanita yang memakai jilbab sepanjang jalan 100 km. Memang jalan disana sangat sepi, dalam 15 menit, 20 menit baru bertemu motor atau mobil lainnya. Sepi sekali, memang daerah yang paling jauh daripada Ibukota negaranya (Jakarta), paling jauh tentunya Papua. Sampai disana hadirin hadirat jiwa saya terus teriris, dimana wajah wajah muslimin, aku ingin lihat wajah umat Sayyidina Muhammad Saw. Saudaraku, saudara kita ingin lihat wajahnya. Sedari tadi baleho dan spanduk yang mencekik kita dengan ucapan “Manokwari Kota Injil”.
Dimana muslimin? hampir beberapa kilometer lagi sampai di wilayah Ransiki, saya lihat beberapa pemuda di pinggir jalan membawa bendera, tidak terlihat pakai peci atau tidak karena pakai helm, bendera apa lagi. Ternyata setelah dekat bendera Majelis Rasulullah Saw. Saya kira saya mimpi, di wilayah Papua, Irian Jaya ada bendera Majelis Rasulullah Saw kapan sampai disini. Ternyata pemuda pemuda kita membuka helmnya dengan mengenakan peci putih, mereka di wilayah Ransiki. Santri santri yang sering hadir di majelis kita setiap malam selasa. 20 orang memang sedang pulang kampung kesana. Mereka menyambut kedatangan kita, tidak lama kemudian disusul dengan beberapa motor dengan bendera Majelis Rasulullah Saw dan bendera kalimat Tauhid diikuti mobil mobil lainnya dengan Rebana Thola’al Badru Alaina di tengah hutan. Kami terus berjalan arak arakan sampai di kota Ransiki dan demikian dahsyatnya sambutan muslimin di kota itu walaupun disitu ada juga yang bukan muslim.
Tapi sambutan muslimin sangat hangat, siapa mereka? Ayah ayah dan keluarga daripada santri santri kita yang dari Manokwari, Irian Jaya. Subhanallah!! Anak anak belasan tahun itu disana ternyata berdakwah sebagaimana doa kita setiap kali mereka maju untuk membaca Alqur’an semoga kembali membawa hidayah dan kemenangan. Demikian doa kita untuk mereka dan doa itu diijabah oleh Allah Swt. Sampai diantara Ayah mereka berkata “ini anak kami tidak boleh pulang lagi ke Jakarta”, kenapa tidak boleh? karena ia jadi imam di salah satu kampung disini. Saya berkata “biarkan orang lain yang jadi imam”, mereka berkata wilayah kampung itu baru masuk islam dan tidak ada yang bisa shalat. Mereka ingin shalat tidak ada yang mengajari shalat, mereka belum bisa shalat sendiri, belum tahu dhuhur berapa raka’at, ashar berapa raka’at, berapa banyak duduk, berdiri dan bersujud. Harus diimami, jadi kalau anak itu sakit tidak ada yang shalat di kampung ini, kalau ia pulang di kampung ini tidak ada lagi shalat. Subhanallah!!.
Di Jakarta kaki kita saling sikut, saling gesek antar majelis taklim. Disana orang mau shalat tidak ada yang mengajari. Satu kampung mau shalat tidak ada yang mengajari. Ada yang sudah belasan tahun mengenal islam dan pernah dengar tentang shalat tapi tidak ada yang mengajarinya. Kenapa? tidak ada ulama disana, sangat sedikit. Tentunya kita tahu Irian Jaya pulau terbesar dari seluruh Indonesia bahwa pulaunya paling besar adalah Irian Jaya. Ulama disana sangat sedikit dan jarak tempuhnya sulit dijangkau kendaraan disana karena kondisi jalannya sangat buruk. Satu musholla saya kunjungi, mereka berkata “ini musholla radius puluhan kilometer cuma hanya ada satu mushollah ini. Jangankan masjid, musholla itu hanya satu saja.
Jadi kalau kita mau ke musholla harus jalan berjam jam untuk sampai ke musholla itu. Itu hanya satu musholla saja, di sekian belas kampung di sekitarnya. Demikian keadaan muslim disana hadirin hadirat dan saya hadir di mushollah itu mendoakan mereka. Menjaga musholla itu lebih daripada menjaga rumah mereka.
Perjalanan diteruskan ke Bintuni, 200 km dari Ransiki atau 300 km dari Manokwari. 12 jam perjalanan, karena kondisi jalan yang sangat buruk tidak bisa dilewati kecuali mobil mobil tinggi, jeep dan lainnya. Sampai disana sambutan yang sangat mengesankan. Ketika saya keluar mereka sudah menyambut dengan ratusan muslimin muslimat diluar memegang bendera bendera menyambut kita dan saat saya kelaur mereka menangis, ada yang bertakbir, ada yang menjerit. Kenapa ini? mereka berkata “kami sejak dulu hanya mendengar dari datuk datuk kami tentang Para ulama, Para Habaib dan kami belum pernah kedatangan satu pun Habib di kota Bintuni. Ratusan tahun kami cuma dengar dari kakek kakek kami saja. Bahkan ada seorang ibu tua melihat pakaian ini, ia menangis dan berkata “dulu saya lihat kakek saya berpakaian seperti ini, sejak itu tidak ada lagi yang berpakaian seperti ini”, sudah lama ratusan tahun yang silam.
Bintuni dimasuki islam abad ke 16 Masehi. Demikian dahsyatnya cinta dan rindu mereka kepad para ulama dan demikian sangat menyedihkan keadaan mereka saudara saudara kita. Diantara keluh kesah mereka yang demikian polos mereka berkata “kami ini Propinsi Papua tidak mau ikut Republik Indonesia terkecuali karena kami tahu Republik Indonesia itu muslim”. Kami tidak mau bersama Portugis, kami ingin bersama Republik Indonesia karena muslim. Tapi setelah kami jadi saudara sebangsa mereka, kami yang paling dikucilkan. Demikian penyampaian mereka. Mereka berkata dari mana kami harus belajar islam, tidak ada yang mengajari kami. Kami belajar agama islam hanya dari televisi dan itu cuma satu satunya yang membuat kami mengenal islam. Padahal tidak semua dari kami yang wilayahnya ada listrik. Listrik saja sulit disana apalagi televisi. Radio tidak ada sinyal pun sangat sulit.
Sampai mereka berkata kami dengar dari saudara saudara kami yang punya televisi bahwa orang orang di Jakarta mengirimkan hartanya untuk Palestina, untuk Bosnia. Kenapa mereka kirim ke tempat yang jauh, kami saudara sebangsa tidak mampu membangun mushola dan tidak bisa melakukan shalat karena tidak ada yang mengajarinya. Demikian sanggahan sanggahan dan keluhan mereka. Saudara saudara kita di wilayah Irian Barat. Setelah saya meninggalkan Bintuni dan tentunya kita mengambil beberapa santri untuk kembali lagi kesini. Sudah dari Ransiki dan 10 santri yang kita ambil dari Bintuni lagi.
Ditengah perjalanan di malam hari, saya meriang karena sedih juga mengingat keadaan yang sedemikian menyedihkan dan sangat mengharukan. Ketika saya tertidur saya bermimpi berjumpa dengan seorang pemuda seusia saya. Pemuda dengan pakaian putih putih dan ia berkata “saya berdakwah disini, lewat ditempat ini, dan saya dikejar kejar disini dan saya dibunuh disini”. Ketika saya bangun, saya melihat ternyata tempat yang dimimpikan itu adalah rimba belantara, ia berkata “saya mati dibunuh disini”. Kuburnya tidak dikenali orang, Subhanallah!! Inilah perjuangan para Da’i terdahulu.
Abad ke 16 M, bagaimana keadaan Irian, bagaimana sulitnya menembus tempat itu demi menyampaikan cita cita dan tugas Nabiyyuna Muhammad Saw.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Hampir saya berfikir, saya akan meninggalkan Jakarta dan terus berdomisili di Irian Barat karena tidak tahan melihat yang disini Jakarta sudah banyak Da’i sedangkan disana belum. Tapi setelah saya fikir fikir tentunya lebih baik kita mengambil santri santri itu dan mendidiknya disini dan kembali kesana dan dididik lagi lalu kembalilagi kesana hal itu lebih baik.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan tentunya setelah saya meninggalkan Papua, Irian Barat saya bermunajat dan tentunya kita juga bermunajat bahwa sekarang kita melihat pamflet pamflet, spanduk spanduk Papua atau Manokwari Kota Injil kita bermunajat akan dating waktunya Irian Barat menjadi kota Sayyidina Muhammad Saw, Irian Barat sebagai wilayah Nabiyyuna Muhammad Saw. Kita makmurkan wilayah Jakarta bukan berarti kita memikirkan Irian Barat saja, Jakarta juga perlu dibenahi, saudara kita yang masih narkoba, saudara kita yang masih mabuk, saudara dan teman yang masih tidak mau shalat dan semua adalah lading jihad kita ntuk menuntun mereka pada kemuliaan, kembalikan mereka kepada hidayah.
Kita bermunajat kepada Allah Swt, semoga Allah Swt melimpahkan kemakmuran bagi muslimin muslimat di wilayah Jakarta, di wilayah Irian Barat dan diseluruh wilayah muslimin. Ya Rahman Ya Rahim kami berdoa untuk saudara saudara kami di Papua, Irian Barat dukung mereka Rabbiy Rabbiy tolong perjuangan mereka, tolong beri apa apa yang mereka inginkan, limpahkan keluasan bagi mereka, semoga Allah Swt limpahkan hidayah bagi mereka yang menyembah selain Mu.
Ya Rahman Ya Rahim Ya Djaljalali wal ikram jadikan wilayah itu wilayah Sayyidina Nabi Muhammad Saw, bangkitkan kekuatan muslimin muslimat. Ya Rahman Ya Rahim datangkanlah terus santri santri dari putra putri mereka ke Jakarta dan yang akan kembali ke wilayah mereka membawa hidayah, membawa syari’ah, membawa islam, membawa dakwah. Mengenalkan shalat, mengenalkan tarawih, mengenalkan takbir, mengenalkan puasa ramadhan,
Faquuluuu (ucapkanlah) Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

*********************************************************************

KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH

  
Surat Al-Fatihah adalah surat yang amat masyhur, 
telah dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati. Semua ini tak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah, dan keutamaannya. Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah:
Orang yang membaca Al-Fatihah akan mendapatkan balasan pahala yang besar di sisi Allah. Terlebih lagi jika ia membacanya dengan ikhlash, dan mentadabburi maknanya.
Abu Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كُنْتُ أُصَلِّيْ فَدَعَانِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ كُنْتُ أُصَلِّيْ, قَالَ: أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: (اسْتَجِيْبُوْا لِلّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ), ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ؟. فَأَخَذَ بِيَدِيْ, فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّكَ قُلْتَ: لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ. قَالَ: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ), هِيَ السَّبعُ الْمَثَانِيْ وَاْلقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتَهُ
Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan, “Wahai Rasulullah, tadi aku sholat“. Beliau bersabda, “Bukankah Allah berfirman,
“Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu“. (QS. Al-Anfaal: 24).
Kemudian beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid”?. Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda, “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda, “Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia ( Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]
Al-Imam Ibnu At-Tiin-rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas, “Maknanya, bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya”. [Lihat Fathul Bari(8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy]
Surat Al-Fatihah merupakan surat terbaik, karena ia mengandung tauhid, ittiba’ (mengikuti) Sunnah, adab berdo’a, al-wala’ wal baro’, keimanan terhadap perkara gaib, dan lainnya.
Ibnu Jabir-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ إِهْرَاقَ الْمَاءَ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِيْ وَأَنَا خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى رَحْلِهِ وَدَخَلْتُ أَنَا الْمَسْجِدَ فَجَلَسْتُ كَئِيْبًا حَزِيْنًا فَخَرَجَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَطَهَّرَ فَقَالَ : عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ و عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ ثُمَّ قَالَ اَلاَ أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُوْرَةٍ فِيْ الْقُرْآنِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اِقْرَأْ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَتَّى تَخْتِمَهَا
Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, “Assalamu alaika, wahai Rasulullah”. Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 X). Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil duduk dalam keadaan bersedih. Maka keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, “Alaikas salam wa rahmatullah (3 kali)”. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an”. Aku katakan, “Mau ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Bacalah surat Alhamdulillahi Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]
Al – Fatihah adalah Al – Qur’an Al – Azhim
Surat Al-Fatihah dinamai oleh Allah dengan “Al-Qur’an Al-Azhim”, padahal Al-Qur’an Al-Azim bukan hanya Al-Fatihah, masih ada surat-surat lainnya yang berjumlah 11 3. Namun Allah -Azza wa Jalla- menamainya demikian karena kandungan Al-Fatihah meliputi segala perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an Al-Azhim secara global. Wallahu A’lam bish showab.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ
Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]
Surat Ruqyah
Al-Qur’an seluruhnya bisa digunakan dalam meruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit kalajengking. Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking tersebut sembuh kala itu juga.
Sekarang kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- ketika beliau berkata,
انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفْرَةٍ سَافَرُوْهَا حَتَّى نَزَلُوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوْا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعْيُنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ فَهَلْ عَنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ وَاللهِ إِنِّيْ لأَُرْقِي وَلَكِنْ وَاللهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوْا لَنَا جُعْلاً فَصَالَحُوْهُمْ عَلَى قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفُلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ { الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ } . فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ . قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِيْ صَالَحُوْهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوْا فَقَالَ الَّذِيْ رَقِيَ: لاَ تَفْعَلُوْا حَتَّى نَأْتِيّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِيْ كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فَذَكَرُوْا لَهُ فَقَالَ: وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ . ثُمَّ قَالَ: قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِيْ مَعَكُمْ سَهْمًا . فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebagian diantara mereka berkata, “Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka”.Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?” Sebagian sahabat berkata, “Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami”. Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, “Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)”. Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, “Silakan bagi (kambingnya)”. Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita”. Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian”. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa“. [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]
Al-Imam Ibnu Abi Jamroh-rahimahullah- berkata, “Tempat memercikkan ludah ketika me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh ludah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]
Cahaya Untuk Ummat Islam
Satu lagi diantara fadhilah Al-Fatihah, ia disebut dengan cahaya, karena di dalamnya terdapat petunjuk bagi seorang muslim dalam semua urusannya. Jika kita mengkaji Al-Fatihah secara mendalam, maka kita akan mendapat banyak faedah dan petunjuk. Oleh karena itu, sebagian ulama’ telah menulis kitab khusus menafsirkan Al-Fatihah dan mengeluarkan mutiara hikmahnya yang berisi pelita yang menerangi kehidupan kita.
Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
بَيْنَمَا جِبْرِيْلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيْضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى اْلأَرْضِ لَمْ يَنْزِلُ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمَ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيْتَهُ
Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata, “Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini”. Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini”. Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi“. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]
Penentu Sholat
Al-Fatihah adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia imam, makmum, atau pun munfarid (sholat sendiri). Barangsiapa yang tak membacanya, maka sholatnya tak sah.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ
Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]
Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Al-Fatihah dinamai sholat, karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah“. [Lihat Syarh Shohih Muslim (2/127)]
Inilah beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, kami sajikan bagi para khotib, da’i, penuntut ilmu, dan seluruh kaum muslimin agar mereka tahu dan mengamalkan hadits-hadits shohih ini, dan menyebarkannya, tanpa berpegang lagi dengan hadits-hadits lemah dan palsu tentang fadhilah Al-Fatihah.
Sumber : http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=428 Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah Judul: Keutamaan Surat Al-Fatihah

********************************************************************************************************************************

Minggu, 15 Mei 2011

DOSA BESAR SEORANG HAMBA

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar besar dosa adalah menyekutukan Allah, dan membunuh manusia, dan durhaka pada ayah bunda, dan ucapan jahat atau kesaksian jahat” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan Puji Kehadirat Allah Jalla wa Alla. Maha Agung kerajaan Nya, Maha Luhur Istana Nya dan kemuliaan Nya, Maha Megah istana istana yang disiapkan untuk hamba hamba Nya yang beriman. 
Istana istana yang dibangun dan kekal abadi untuk menyambut Ahlu Laailahailallah Muhammad Rasulullah (para muslimin). Untuk menyambut hamba hamba Nya, istana istana yang megah dan kekal telah dicipta dan dibangun atas Nama Cinta Allah kepada hamba hamba Nya.
Salah satu bukti cinta yang tertinggi dan salah satu anugerah yang melebihi segenap anugerah Allah ini adalah (Dia Allah swt sebagai) Samudera kelembutan di alam semesta ini yang selalu membasahi jiwa hamba hamba Nya dengan iman, yang membasahi hamba Nya dengan rahmat dan anugerah sepanjang waktu dan zaman. Allah Swt Yang Maha Tunggal dan Abadi, Maha Sempurna dan Luhur, Maha Bercahaya menerangi jiwa hamba hamba Nya dengan cahaya khusyu’, dengan cahaya sujud, dengan cahaya munajat hingga ketika cahaya itu terbit pada jiwa dan sanubari mereka maka tiada akan pernah berhenti indahnya bermunajat memanggil Nama Allah Swt.
Ingin dekat dengan Allah, ingin selalu dicintai oleh Allah, ingin selalu merindukan Allah dan selalu hari harinya dipenuhi dengan bayang bayang perjumpaan terindah dengan Allah Swt. Demikianlah jiwa jiwa yang mulia dan luhur, demikian sanubari yang dicintai dan dimanjakan Allah Swt.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Sampailah kita di malam hari ini yang masih menyaksikan indahnya kasih sayang Allah Swt dengan tuntunan Sang Nabi saw. Salah satu bentuk rahmat Allah Swt yang terbesar adalah kebangkitan Sayyidina Muhammad Saw yang dengan tuntunannya (Nabi saw) berlimpahlah kasih sayang Allah kepada hamba hamba Nya di masa umat ini. Dan demikian banyaknya hamba yang diampuni, demikian banyaknya hamba yang terangkat dari kegelapan menuju terang benderang dan keindahan. Sedemikian banyak nama yang sampai ke dalam surga, sedemikian banyak nama yang terangkat dari neraka, Sedemikian banyak kebahagiaan dan kemakmuran kekal sampai kepada mereka, Inilah bentuk rahmat Ilahi dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad Saw.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Sampailah kita di malam hari ini dengan hadits agung dan tuntunan tertinggi dari semua tuntunan, bimbingan paling sempurna sepanjang waktu dan zaman. Tuntunan Muhammad Rasulullah Saw yang setiap ucapan ucapan beliau merupakan cahaya wahyu Ilahi, Yang merupakan setiap apa yang beliau ajarkan akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Seraya bersabda dan sampailah sabda ini kepada kita Akbarul kabaair Al Isyraak billahi, Yang pertama adalah dosa yang paling besar yaitu menyekutukan Allah, Ketika seorang hamba menyembah selain Allah Swt maka itu adalah dosa yang paling besar. Durhaka kepada Allah karena pada hakekatnya tiada satu pun makhluk di alam terkecuali diciptakan Allah Swt. Dan tiada pencipta selain Allah Swt. Maka ketika hamba Nya mengakui ada Tuhan selain Allah Swt dan itu adalah sebesar besarnya dosa, Dan bentuk bentuk dari persekutuan kepada Allah Swt adalah mengakui adanya Tuhan yang disembah selain Allah,
Mengenai hal hal yang sering dituduhkan oleh sebagian saudara kita tentang pengagungan Sang Nabi saw dan pengangungan para ulama dan hal itu merupakan hal yang menduakan Allah Swt, tentunya hal itu pemahaman yang keliru, Karena mencintai Sang Nabi saw justru adalah bentuk kesempurnaan iman dan demikian mencintai para penerus beliau (Nabi saw) demikian memuliakan orang tua kita,
Satu satunya dosa yang tidak diampuni oleh Allah Swt adalah menduakan Allah Swt (menyekutukan Allah Swt). Yang dimaksud di dalam hadits itu bukan berarti orang yang menyembah selain Allah Swt itu tidak akan pernah mendapatkan pengampunan, Tentunya sudah pasti mendapatkan pengampunan jika bertaubat, Tapi yang dimaksud Allah Swt tidak akan memberikan pengampunan kepada hamba Nya seandainya ia tidak mau bertaubat. Beda dengan para pendosa lainnya, dosa mereka bisa dikikis dengan musibah atau dengan siksa kubur atau dengan siksa neraka tapi akhirnya mendapat pengampunan Allah Swt. Namun bagi yang menyekutukan Allah Swt tidak mendapat pengampunan Allah Swt terkecuali mereka bertaubat. Jika mereka bertaubat maka pengampunan Allah Swt sampai kepada mereka.
Yang kedua adalah qatlunnafs, yaitu membunuh. Membunuh seorang muslim dengan sengaja, bukan dengan tidak sengaja, maka ini adalah salah satu dari dosa yang paling besar, Dan ini adalah dosa yang paling besar nomor dua setelah menyekutukan Allah Swt.
Yang ketiga adalah ‘Uququl walidain, orang orang yang durhaka kepada ayah ibunya, Durhaka kepada salah satunya juga merupakan bentuk dari dosa durhaka kepada ayah atau ibunya.
Al Imam Ibn Hajar AlAsqalani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘uququl walidain (durhaka kepada ayah dan bunda) bukanlah harus dengan menuruti atau harus mengikuti perintah ayah dan bunda, Boleh saja tidak taat pada ayah dan ibu tapi yang dilarang adalah mengecewakan dan menyakiti mereka. Jadi Al Imam Ibn Hajar menukil ucapan Imam Nawawi ra bahwa tidak semua perintah ayah dan ibu itu mutlak harus ditaati. Tetapi yang menjadi dosa besar adalah menyakiti mereka walaupun taat. Bisa saja seorang anak taat pada ayah dan ibunya tetapi dengan cara yang menyakiti, Ini termasuk kedalam durhaka pada ayah dan bunda.
Oleh sebab itu hadirin hadirat dijelaskan tidak taat kepada ayah dan ibu selama tidak menyakiti mereka bukan termasuk ke dalam durhaka kepada ayah dan bunda, Barangkali terkena dosa, Perintah tidak taat terkena dosa tapi bukan durhaka, Kalau durhaka adalah menyakiti perasaan mereka, Dan Rasul saw diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari juga memerintahkan bakti kepada ayah dan bunda walaupun mereka non muslim, Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika salah seorang istri beliau (Nabi saw) bertanya tentang pertanyaan “bagaimana jika seseorang didatangi oleh ayahnya yang masih musyrik? apakah boleh disambut?”, maka Rasul saw menjawab “boleh, sambut kedatangannya”. Demikian diperintahkan oleh Nabiyyuna Muhammad Saw, karena apa? karena bakti kepada ayah dan bunda itu adalah rasa terima kasih atas jasa yang besar dari mereka yang telah melahirkan kita, membesarkan kita dan yang telah membimbing kita.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul saw meletakkan ganjaran bakti kepada kedua orangtua ini dalam satu tingkatan dengan jihad fisabilillah, Bahkan di dalam riwayat Shahih Bukhari bahwa bakti kepada kedua orangtua lebih besar dari jihad fisabilillah, Sebagaimana salah satu riwayat ketika salah seorang pemuda datang kepada Rasul saw seraya meminta izin untuk ikut berjihad dan Rasul saw bertanya “afiika abawaan?” apakah kau punya ayah ibu? Maka pemuda itu menjawab “ya punya”. Rasul saw bertanya lagi “kaifa taraktahuma?” bagaimana kau tinggalkan mereka, apakah ridho dengan keberangkatanmu atau tidak?, maka pemuda itu menjawab “taraktuhumma wa humma yabkiyaan” aku tinggalkan ayah bundaku dalam keadaan menangis, kecewa akan kepergianku. Maka Rasul saw menjawab “irja’ ilayhimaa fa adh hik humaa kama abkaitahumaa” fafiihimaljihad”, balik engkau pada ayah dan ibu, buat mereka tersenyum sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis. Sekarang engkau harus berusaha membuat mereka tersenyum dan senang. Dan di dalam perbuatan itu terdapat pahala jihad” Demikian indahnya bakti kepada ayah dan bunda yang Rasul saw padukan hal itu merupakan salah satu dari bentuk jihad fisabilillah.
Muncul banyak pertanyaan beberapa saudara saudara kita, pertanyaan muncul pada saya melalui email maupun website tentang kekecewaan atas perbuatan ayah atau ibunya, Ayahku buruk perbuatannya atau ibuku buruk perbuatannya, bagaimana? Apakah saya boleh membencinya?
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Tiada sepantasnya seorang anak mengecewakan atau menghina ayah dan ibunya walau ia seorang yang pendosa, misalnya. Sepantasnya seorang anak berkata “sebesar apapun kesalahanmu atau bagaimanapun orang membencimu, aku tetap anakmu yang akan tetap mencintaimu dan ingin engkau kembali kepada kemuliaan”. Demikian sepantasnya setiap anak. Orang lain mau mencaci ayahku, aku tidak akan mencaci ayahku sendiri. Aku akan cinta dan bakti pada ayahku sendiri, apapun perbuatannya. Jika ayah ataupun ibu perbuatannya adalah dosa besar tentunya mereka bukan tanggung jawab kita untuk mendidik mereka karena mereka mempunyai ayah dan bunda yang bertangung jawab. Dan Allah Swt Maha Menghakimi dan tiadalah kita diperintah untuk menghakimi ayah bunda kita ketika ayah ibu kita berbuat salah. Maka tegurlah dengan kelembutan dan kasih sayang atau jika tidak doakanlah sebanyak banyaknya dan dalam perbuatan itu adalah perbuatan jihad.
Karena apa? tadi hadits yang kita dengar Rasul saw berkata “sebagaimana kau buat mereka kecewa maka buat mereka gembira dan tersenyum.” Maksudnya apa? Jadikan mereka mencintai dan merelakan kepergianmu dalam jihad untuk pemuda tadi. Dalam perbuatan itu untuk membuat mereka yang awalnya benci perbuatan jihad fisabilillah sampai dengan cinta kepada jihad fisabilillah. Dan perbuatan itu adalah pahala jihad. Jadi kesimpulannya kita mengambil makna dari hadits ini jika kita mempunyai ayah atau ibu yang kurang baik perlakuannya dan kita berusaha membenahi dan mengembalikan mereka kepada kemuliaan dengan kelembutan, dengan kesopanan atau dengan doa dan munajat. Maka pada perbuatan itu terdapat pahala jihad.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Sungguh menyesal mereka kalau sudah kehilangan ayah ibunya tinggal penyesalan saja. Tidak bisa berbakti kepada ayah dan ibunya. Hati hati kepada ayah kita, jangan sampai kita membenci ayah kita ini, perbuatannya kasar, tidak suka dengan majelis atau lainnya. Ingat.., Disaat kita lahir ke muka bumi, belum ada teman, belum ada kekasih, belum ada siapapun. Ayah kita yang memeluk kita dan yang mengadzankan kita sambil menangis gembira atas kelahiran kita. Itu untuk Ayahanda kita dan lebih lebih lagi untuk Ibunda kita.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan yang keempat adalah wa Qauluzzuur, yaitu ucapan ucapan yang jahat, atau Aw syahadatuzzuur yaitu sumpah sumpah yang jahat. Maksudnya apa disini? perbuatan dan ucapan termasuk gunjingan, cacian ini semua tidak termasuk ke dalam ucapan yang jahat (Qauluzzuur) terkecuali sangat merugikan orang lain. Jadi kalau seandainya membicarakan orang adalah berdosa tapi bukan Qauluzzuur yg merupakan dosa terbesar diperingkat keempat, terkecuali kalau sudah betul betul menjebak orang itu agar celaka. Dan ucapan jahat ini lebih dekat daripada fitnah. Satu ucapan ucapan yang mencelakakan orang lain , ini salah satu dari dosa dosa besar.
Al Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari mencatat sekitar 70 dari dosa dosa besar. Ini yang dosa besar diantaranya tadi adalah orang yang menyekutukan Allah, orang yang membunuh, orang yang durhaka kepada ayah dan ibunya dan orang yang mengucapkan kalimat kalimat yang jahat. Ucapannya diucapkan untuk membuat orang lain menghina orang atau menjebak orang itu atau menipu orang itu, Ini disebut ucapan ucapan yang jahat.
Kalau syahadatuzzuur adalah sumpah yang membawa kejahatan bagi orang lain. Jadi sumpah palsu itu belum sampai ke tingkat sumpah yang jahat. Sumpah palsu kalau untuk dirinya sendiri, tidak kena dosa besar. Kalau sumpah yang jahat, misalnya orang yang tidak berzina “aku sumpah melihat ia berzina”. Nah ini sumpah yang jahat dan besar sekali dosanya dihadapan Allah Swt.
Jadi hati hati kalau kita berbicara misalnya lewat sms, lewat hubungan telepon atau dengan yang lainnya. Ucapan ucapan yang menjebak orang lain, memfitnah orang lain, mengadu domba orang lain. Apakah hal seperti ini disebut ucapan jahat? Ini adalah dosa yang sangat besar dan hati hati dengan perbuatan kita.
Sang Nabi saw memberikan tuntunan kepada kita, seindah indahnya tuntunan. Sehingga kita tahu mana ini yang dosa besar, mana dosa yang sangat dimurkai Allah Swt kita akan menghindarinya. Kalau seandainya demikian banyaknya dosa – dosa yang kita perbuat, bagaimana kita bisa menghindari semua dosa maka yang hanya mampu memberikan kekuatan adalah Allah Swt. Makin kuat iman dan cinta kita kepada Allah Swt, maka Allah Swt akan semakin mencabut sifat sifat buruk dari jiwa kita, dari ucapan kita, dari hari hari kita. Ya Allah Yang Maha Terang Benderang menerangi kehidupan dan budi pekerti hamba hamba Nya dengan tuntunan Nabiyyuna Muhammad Saw. Demikian hadirin mengenai hadits ini dan salah satu ibadah yang sangat besar pahalanya.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad adalah bakti kepada ibu. Ketika Abdullah bin Umar ra didatangi seorang pendosa yang berkata “wahai ibn umar, aku ini selalu berbuat dosa tapi aku mau tobat dan mau menebus dosaku, aku harus beramal apa?”. Abdullah ibn Umar ra berkata “kau punya ibu?”, maka pemuda itu berkata “sudah wafat”. Dijawab oleh Abdullah ibn Umar “ya sudah kalau sudah wafat, kau perbanyak ibadah saja”. Ketika pemuda itu pergi, orang yang disebelah Ibn Umar bertanya “kenapa kau tadi tanya ibunya? Apa hubungannya ibu dengan dosa orang itu?”, maka Ibn Umar berkata “aku belum menemukan satu pahala yang bisa memupus dosa dosa melebihi dari menyenangkan ibunda sendiri”. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Swt.
Dan dijelaskan barangsiapa yang menginginkan keberkahan hidup, panjang umur dan rezki yang luas maka senangkanlah hati ibunya, Maka itu Allah akan bukakan baginya limpahan keberkahan,
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan disaat saat ini di bulan syawal yang diberkahi Allah Swt. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim Rasul saw bersabda “barangsiapa yang berpuasa ramadhan lalu diikuti dengan 6 hari puasa di bulan syawal maka seakan – akan ia puasa setahun penuh”. Jadi puasa syawal 6 hari, yang berpuasa sepanjang tahun itu setelah puasa ramadhan maka baginya pahala seakan akan puasa setahun penuh (sepanjang tahun). Kenapa demikian hebatnya? demikian anugerah anugerah yang Allah limpahkan di bulan syawal. Bulan yang sangat berdekatan dengan bulan yang sangat dicintai oleh Allah yaitu bulan ramadhan.
Al Imam Nawawi rahimahullah didalam Syarah Nawawi ala Shahih Muslim menjelaskan bahwa tidak disyaratkan puasa 6 syawal itu harus diawal. Tanggal 2 atau 3 syawal. Tanggal berapa saja, mau tanggal 6 hari di awal, 6 hari di tengah, 6 hari di akhir atau dipisah – pisah 1 hari dulu baru besok 2 hari, besoknya tidak puasa. Selama ia masih di bulan syawal, ia puasa 6 hari maka ia mendapatkan pahala itu dan tidak disyaratkan harus bersamaan. Mau di akhir sama saja. Namun Imam Nawawi ra mengatakan afdholnya adalah berpuasa di awal setelah hari 1 syawal atau setelah hari 2 syawal. Karena 1 syawal diharamkan berpuasa tentunya. Sebagaimana kita pahami.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Kemuliaan syawal dan Allah swt tidak menyisakan 1 detik pun terkecuali tersimpan padanya rahasia anugerah yang demikian dahsyatnya dan demikianlah tuntunan manusia yang paling berlemah lembut Sayyidina Muhammad Saw. Manusia yang paling berkasih sayang. Allah Swt sangat berkasih sayang kepada hamba – hamba Nya yang beriman dan beramal shalih dan Maha Pemaaf kepada para pendosa jika mereka mau meminta ampun dan maaf kepada Allah Swt. Maafnya Allah sangat luas dan demikian pula yang terlihat pada sosok Nabi Nya, Nabi Muhammad Saw.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dikatakan seorang pemuda datang kepada Rasul saw dan berkata “wahai Rasul aku telah berbuat dosa sangat besar, aku minta hukuman”. Disaat yang sama iqamah shalat dan Rasul saw tidak menjawabnya. Beliau (Nabi saw) buang muka dari pemuda itu dan terus melaksanakan sholat jamaah. Sang pemuda menangis “aku datang untuk bertaubat pada Sang Nabi saw betapa jahatnya dosaku sampai Rasul tidak dengar ucapanku malah terus melakukan sholat saja”. Tidak dijawab “ya” atau bahkan ia minta hukuman. Maksudnya apa? agar terhapus dosa – dosanya. Selesai saja hukuman aku bisa tenang, maksudnya begitu. Ini minta hukuman atas dosa malah tidak dijawab oleh Rasul saw. Berarti aku ini betul – betul orang yang paling jahat, minta hukuman saja Rasul saw masih tidak perduli dan meneruskan sholatnya. Selesai sholat maka pemuda itu dipanggil oleh Rasul saw, wajahnya sudah sembab dengan airmata penuh kesedihan. Sepanjang sholat penuh tangisan, karena apa? ucapannya tidak diperdulikan oleh Rasul saw saat ia minta hukuman agar dosanya dihapus. Maka Rasul saw berkata “engkau tadi yang minta hukuman atas dosa dosamu..?”, ia berkata “benar ya Rasulullah”. Rasul saw menjawab “kau tadi sholat bersama kami sholat berjamaah?”, pemuda itu menjawab “benar ya Rasulullah”. Rasul saw menjawab “Allah swt sudah hapuskan dosa dosamu karena kau tadi ikut sholat berjamaah”.
Demikian indahnya budi pekerti Nabiyyuna Muhammad Saw. Orang datang minta dihukum karena dosa malah Rasul saw mendiamkannya. Maksudnya apa? agar ikut sholat berjamaah dulu, selesai sholat berjamaah Allah Swt mengampuni dosa dengan hadirnya seseorang dalam sholat berjamaah. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa Rasul saw pasti sudah tahu tentang dosa orang itu karena Rasul saw tidak akan sembarangan mengatakan Allah sudah mengampuni dosamu, kalau Rasul saw tidaktahu betul kalau dosa itu benar sudah diampuni. Rasul saw sudah tahu dosa orang itu dan memang Allah sudah membenarkan taubatnya dan sudah menghapus dosanya. Dan di dalam riwayat itu juga tersimpan kemuliaan shalat berjamaah.
Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga Allah Swt memuliakan hari hari kita, membenahi hari hari kita, Ya Rahman Ya Rahim telah kami lewati kemuliaan ramadhan, telah kami lewati kemuliaan Idul Fitri, jangan Kau lewatkan 1 butir pun kemuliaan itu kecuali Kau sampaikan kepada kami. Engkau beri kesembuhan yang sakit dari kami dan Kau beri kemudahan bagi yang ditimpa kesulitan diantara kami. Dan Kau kabulkan segenap hajat hajat kami.
Ya Rahman Ya Rahim Wahai Yang Maha Bercahaya siang dan malam menerangi hamba hamba Nya dengan kemudahan dan kebahagiaan, Wahai Nama Yang Maha Luhur melebihi indahnya segenap nama, Wahai Nama Yang Maha Abadi, Wahai Nama yang menyiapkan anugerah yang kekal dan abadi untuk hamba hamba Nya yang selalu bertaubat dan memanggil Nama Mu.
Hadirin – hadirat “Man ahabba syai’an katsura dzikrahu” barangsiapa yang mencintai sesuatu akan banyak banyak menyebutnya maka cintailah Allah, banyaklah menyebut Nama Allah”. Semoga Allah Swt memasukkan kita ke dalam kelompok orang orang yang mencintai Nya. Ya Rahman Ya Rahim terangi jiwa kami dan hari hari kami dengan cahaya kemudahan, dengan cahaya kebahagiaan. Jangan kecewakan hamba yang memanggil Nama Mu dan menyebut Nama Mu dan mengingat keindahan Mu.
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Dzaljalali wal ikram Ya dzaththauli wal in’am Allah Swt berfirman “ingatah kalian padaKu dan Aku akan mengingat kalian, sebutlah NamaKu dan Aku akan mengingat nama nama kalian” tapi ingatlah nama nama kami Ya Rahman Ya Rahim Ya dzaththauli wal in’am terbitkan kebahagiaan bagi kami siang dan malam kami, hidup dan wafat kami Ya Rahman terbitkan matahari kebahagiaan yang tiada pernah padam, limpahi kami dengan kemakmuran, limpahi kami dengan cahaya iman aas muslimin muslimat dhahiran wa bathinan.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Malam ahad yang akan datang kita akan mengadakan Tabligh Akbar Majelis Rasulullah Saw memperingati hari kejadian Perang Khandak yang terjadi di bulan syawal, dikenal juga sebagai perang ahzab. Kejadian ini di bulan syawal. Kita akan memperingatinya pada malam ahad (sabtu malam minggu) yang akan datang dan setelah itu kita akan berziarah ke makam Al Habib Husein Abi Bakar Alaydrus (luar batang). Mereka yang mempunyai waktu untuk hadir di Masjid Al Hasanain dan saya juga mohon pamit karena besok akan berangkat ke Manokwari, Irian Jaya. Daerah ini sebenarnya saya juga berat melangkah kesana karena medannya terlalu berat dan melihat kondisi saya juga tapi ini medan dakwah yang aling berat di seluruh Indonesia adalah hutan Irian. Memang wilayah yang akan dicapai adalah kota Manokwari, Transiki dan Bintuni yang untuk mencapainya butuh waktu 24 jam dengan mobil dari kota Manokwari. Cukup jauh juga medannya tidak bisa dilewati mobil terkecuali rusak, jeep jeep saja yang bisa lewat karena melewati hutan. Sangat jarang ulama yang menginjak tempat itu. Sebenarnya saya juga tidak berkenan karena sudah ada KH. Ahmad Baihaqi tapi tampaknya keadaan yang sangat genting antara muslimin yang terus ditndas dan butuh tuntunan tuntunan kedamaian maka insya Allah saya besok berangkat dan kembali pada hari Sabtu. Insya Allah dakwah ini menjadi sukses dan membawa berkah. Satu persatu kita dari Manokwari telah mendahului disana untuk shalat tarawih karena disana belum kenal shalat tarawih dan mereka juga memakmurkan masjid dengan takbiran karena jarang masjid disana dijadikan takbiran di malam Idul Fitri. Mereka diluar sana sudah menyiapkan, Insya Allah, Allah Swt akan munculkan hidayah dan kemuliaan di kota Manokwari ini. Rencana orang – orang non muslim kota Manokwari ini akan dijadikan kota injil karena tempat pertama masuknya kaum nasrani di Indonesia. Akan dijadikan kota Manokwari ini kota injil dan akan membangun 1 muasasah atau 1 pendidikan agama nasrani yang terbesar di Asia Tenggara. Jadi wilayah Manokwari terhimpit saudara – saudara kita muslimin muslimat. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan dan pertolongan kepada muslimin muslimat di wilayah Manokwari, Irian Jaya. Demikian hadirin hadirat dan saya akan pulang jum’at sore Insya Allah dan akan hadir malam ahad yang akan datang di Masjid Al Hasanain untuk perayaan memperingati perang khandak dan juga kita doakan tamu kita Syekh Muhammad bin Abdullah dari Sidney, Australia agar Allah sukseskan wilayah itu dan beliau sudah berencana membeli gereja disana sampai saat ini masih belum tuntas. Semoga Allah Swt melimpahkan kemudahan dan keluasan sehingga dakwah makin luas di wilayah Sidney, Australia dengan muslimin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.....
*************************************************************